Rekomendasi Wisata di Bantul yang Bisa Kamu Kunjungi


Keindahan Pantai Parangtritis – Katalog Tempat Wisata & Liburan

Daerah Istimewa Yogyakarta tidaklah terlalu besar, namun ternyata Jogja mempunyai puluhan pantai yang sangat menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Parangtritis.  Tempat wisata ini boleh terbilang adalah salah satu destinasi wisata paling favorit diantara para wisatawan sejak lama.
Pantai Parangtritis terbilang sebagai pantai yang spesial di Indonesia, karena di pantai ini terdapat padang pasir yang lazimnya kita temui di belahan dunia arab. Namun di pantai ini anda akan bisa menemukan gundukan-gundukan pantai layaknya sedang di padang pasir arab. Padang pasir yang ada di kawasan Pantai Parangtritis ini dinamakan Gumuk Pasir. 
Keindahan Pantai Parangtritis memang tidak dapat diraguka lagi, karena setiap harinya dikunjungi oleh ribuan wisatawan yang berbondong-bondong untuk melihat pantai di laut selatan jawa ini.




Yogyakarta memiliki banyak daerah yang menyimpan banyak destinasi wisata yang indah. Salah satu daerahnya yaitu daerah Bantul. Terdapat berbagai macam goa yang ada di Bantul yang dapat para wisatawan nikmati pesona keindahannya. Obyek wisata alam tersebut yaitu Goa Selarong Bantul.
Goa Selarong Bantul merupakan goa yang terkenal karena goa ini bekas benteng pertahanan Pangeran Diponegoro dengan pasukannya, oleh sebab itu goa ini juga biasa disebut dengan Goa Diponegoro. Goa ini berada di perbukitan kapur yang tingginya sekitar 35 meter. Di sekitar goa ini terdapat pohon-pohon yang tumbuh dengan lebat dan rindang.
Asal usul Goa Selarong yaitu berawal dari kisah perjuangan Pangeran bersembunyi dari serangan Belanda. Karena Pangeran Diponegoro kalah dalam senjata dan pasukan di goa inilah beliau menyusun strategi perang gerilya. Dilihat dari luar Goa Selarong ini terlihat seperti goa yang buntu, tetapi ketika Pangeran Diponegoro dan pasukannya masuk tidak akan nampak dari luar. Goa Selarong ini seperti pintu gaib bagi Pangeran Diponegoro untuk bersmbunyi.Perang tersebut berlangsung dari tahun 1825 sampai tahun 1830. Sampai akhirnya Pangeran Diponegoro ditangkapn oleh Belanda dan diasingkan di Makasar sampai beliau wafat.

Menurut orang-orang Goa Selarong ini merupakan tempat yang cukup angker. Apalagi saat malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon. Di dalam Goa Selarong tersebut terdapat suara dari gamelan yang sedang ditabuh. Terdapat larangan yang harus dihindari ketika anda berkunjung ke goa tersebut yaitu tidak menggunkana tempat ini sebagai pesugihan, karena jika anda mencoba hal tersebut maka anda akan mendapat bencana besar.


Makam Imogiri, atau Pasarean Imogiri, adalah lokasi peristirahatan terakhir Raja-Raja Mataram dan keluarganya. Kompleks pemakaman ini terletak kurang lebih 16 km di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, tepatnya di wilayah Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Imogiri berasal dari kata hima dan giri. Hima berarti kabutdan giri berarti gunung, sehingga Imogiri bisa diartikan sebagai gunung yang diselimuti kabut.
Memilih perbukitan yang dinamai Panjimatan Girirejo untuk membangun makam raja ternyata mempunyai cerita sejarah sebelumnya. Menurut masyarakat setempat, sewaktu Sultan Agung sedang mencari tanah yang akan digunakan untuk tempat pemakaman khusus sultan dan keluarganya, beliau melemparkan segenggap pasir dari Arab. Pasir tersebut dilempar jauh hingga akhirnya mendarat di perbukitan Imogiri.
Anak tangga di Permakaman Imogiri berjumlah 409 anak tangga. Menurut mitos yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, jika pengunjung berhasil menghitung jumlah anak tangga dengan benar, maka semua keinginannya akan terkabul.Sebagian anak tangga memiliki arti tertentu,
·        Anak tangga dari permukiman menuju daerah dekat masjid berjumlah 32 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun pada tahun 1632.
-        Anak tangga dari daerah dekat masjid menuju pekarangan masjid berjumlah 13 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung diangkat sebagai raja Mataram pada tahun 1613.
·        Anak tangga dari pekarangan masjid menuju tangga terpanjang berjumlah 45 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung wafat pada tahun 1645.
·       Anak tangga terpanjang berjumlah 346 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun selama 346 tahun.

·    Anak tangga di sekitar kolam berjumlah 9 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan Walisongo.